Maradeka To Wajo'e Ade'na Napopuang

Orang Wajo: Menjunjung Tinggi Adat dan Nilai Luhur Siri' na Pesse


To The Point, WAJO
– Masyarakat Wajo merupakan bagian dari rumpun besar suku Bugis yang dikenal teguh memegang warisan leluhur. Bagi mereka, adat bukan sekadar aturan tertulis, melainkan pedoman hidup yang mengatur seluruh aspek hubungan antarmanusia. Hal ini tercermin dalam falsafah hidup terkenal: 

“Maradeka to Wajoe, ade’na napopuang”

Falsafah yang bermakna “Orang Wajo adalah orang yang merdeka, namun kemerdekaannya dibingkai dan dijunjung tinggi oleh adat”.

Di balik falsafah tersebut terdapat dua pilar utama yang menjadi jiwa kehidupan sosial mereka, yaitu Siri' na Pesse. Siri' berarti harga diri, rasa malu berbuat kesalahan, keberanian mempertahankan kehormatan, dan kesadaran akan batas-batas yang baik. Sementara Pesse adalah rasa empati, belas kasih, kepedulian, dan kepekaan terhadap penderitaan sesama. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Seseorang dikatakan memiliki budi pekerti luhur jika ia menjaga harga dirinya sendiri sekaligus menyayangi dan menghormati orang lain.


Nilai ini terwujud jelas dalam pergaulan sehari-hari. Anak-anak diajarkan sejak dini untuk berbicara dengan bahasa halus, bersikap sopan, dan menghormati orang tua serta tetua adat. Mereka diajarkan bahwa kebebasan bukan berarti berbuat sesuka hati, melainkan kebebasan yang bertanggung jawab agar tidak merugikan atau mempermalukan orang lain. 

Siri' mengingatkan untuk selalu berperilaku terpuji, sedangkan Pesse mengajarkan untuk selalu ringan tangan membantu siapa saja yang membutuhkan.

Dalam menyelesaikan perselisihan, semangat Siri' na Pesse menjadi landasan utama. Jika terjadi persengketaan, masyarakat Wajo lebih mengutamakan jalan damai melalui musyawarah adat yang disebut Mappacci. Tujuannya bukan untuk mencari siapa yang menang atau kalah, melainkan untuk tujuan membersihkan dan memulihkan kembali keharmonisan agar tidak ada pihak yang terhina, demi menjaga siri', harga diri dan tidak ada yang terus bersedih dengan maksud menumbuhkan pesse atau rasa peduli. 

Tokoh adat menjadi penengah yang memutuskan perkara berdasarkan aturan yang telah disepakati bersama.

Semangat kebersamaan juga terlihat dalam tradisi Mappalili, yaitu gotong royong tanpa pamrih. Baik saat membangun rumah, mengolah sawah, maupun membantu tetangga yang tertimpa musibah, seluruh warga bergotong royong. Ini adalah wujud nyata bahwa kemerdekaan individu harus diimbangi dengan kepedulian sosial.

Di tengah arus modernisasi, masyarakat Wajo tetap memegang teguh ajaran ini. Mereka meyakini bahwa “Maradeka to Wajoe, ade’na napopuang” dan nilai Siri' na Pesse, bukanlah penghambat kemajuan, melainkan kompas hidup. 

Dengan berpegang teguh pada adat dan nilai luhur tersebut, mereka melangkah maju tanpa melupakan jati diri, menjaga keharmonisan, dan memastikan bahwa kemerdekaan senantiasa berjalan beriringan dengan akhlak yang mulia.(ttp) 

Komentar