![]() |
| Saoraja Wajo |
La Taddampare’ Puang Ri Maggalatung, itulah nama tokoh utama kerajaan Wajo, menjabat sebagai Arung Matoa Wajo antara tahun 1491 – 1521 Masehi. Di bawah kepemimpinannya, Kerajaan Wajo mencapai masa keemasan, berkembang menjadi salah satu kekuatan besar, makmur dan tertib di antara banyak kerajaan di Sulawesi Selatan.
Menurut catatan, Puang ri Maggalatung adalah seorang pemikir, negarawan, ahli strategi, ahli pertanian, sekaligus penyusun hukum yang bijaksana.
Asal‑Usul dan Awal Kehidupan
La Taddampare’ lahir dan tumbuh besar di wilayah Kerajaan Palakka, Bone. Kemudian melakukan migrasi ke tanah Wajo bersama 300 orang pengikut setia.
Silsilah menurut Lontara Suku'na Wajo:
- Ayahnya bernama : La Tompi Wanua
- Kakeknya : La Tenro Aji Datu Sailong, beristrikan We Cammekku
- Saudara ayah: La Tiringeng To Tabba (Arung Sao Tenreng, Arung Simetteppola)
- We Cammekku, adalah cucu dari La Tenri Bali (Arung Cinnotabi VI, Arung Penrang I sekaligus Batara Wajo I)
Puang ri Maggalatung memiliki seorang putera, La Madderemmeng yang kelak menjadi Arung Peneki I
Menjadi Penguasa dan Memperluas Wilayah
Puang ri Maggalatung naik takhta menggantikan La Tenriumpu. Ketika itu penduduk yang mendiami Tana Wajo belum mencapai seribu jiwa. Dialah yang mulai melebarkan dan memperkokoh kerajaan .Banyak daerah datang menyerahkan diri untuk meminta perlindungan, sebagian lagi melalui penaklukan.
Beberapa kerajaan kecil yang datang meminta suaka dan menyerahkan diri, antara lain; Baringeng, Lompullek, Tana Tengnga, Ujumpulu, Gilireng, Otting, seluruh kawasan Enrekang, Mario Riawa, Belokka, Cerowali, Awanio, Patampanua
Sedangkan negeri yang menyatu melalui penaklukan, di antaranya; Lamuru, Larompong, dan Batu Lappa
Kemakmuran dan Cakupan Wilayah Penuh
Pemerintahan berlangsung tepat 30 tahun. Dalam masa itu Wajo tidak pernah mengalami paceklik dan gagal panen. Tanaman padi tumbuh subur dengan bulir yang besar dan berisi penuh, dan tidak pernah kekurangan makanan. Kemakmuran mendorong perluasan wilayah hingga meliputi:
- Utara: Larompong, Batu Lappa, Massenrengpulu
- Barat: Bilawa, Utting, Rappang, Bulu Cenrana
- Timur: Pompanua, Amali, Langea, Mampu
- Selatan: Baringeng, Pattojo
Untuk mengurus kawasan yang luas, dibentuk pembagian tugas yang jelas:
- Tiap daerah memiliki kepala bernama Ranreng, diberi wewenang mengurus wilayahnya sendiri.
- Administrasi dijalankan baik di pusat maupun tingkat daerah
- Tujuannya agar hubungan pusat‑daerah lebih erat dan beban pemerintahan terbagi merata
Asal‑Usul Gelar Puang Ri Maggalatung
Gelar lahir dari peristiwa peperangan, ketika itu Puang ri Maggalatung bersama pasukannya berhasil menundukkan dan membakar kampung Wéwattana serta Bélogalung.
Dalam bahasa Bugis, kata mallalatung atau bentuk pasif palllatungngi bermakna membumihanguskan atau membakar sampai habis. Dari kata inilah muncul gelar Maggalatung.
Bermula dari kata mallalatung berubah sebutan menjadi maggalatung, sesuai kebiasaan orang Wajo ketika itu dalam mengeja kata, seperti Sengkang menjadi Singkang, La Pénéki menjadi Piniki.
Kebijakan dan Sistem Pemerintahan
Dalam masa pemerintahannya, antara 1491‑1521, Puang ri Maggalatung membangun tatanan kokoh;- Mengembangkan pengairan dan pertanian hingga Wajo menjadi lumbung padi
- Menyempurnakan hukum adat dan musyawarah
- Mengatur jalur sungai dan perdagangan
- Menggabungkan kekuatan militer dan diplomasi
- Menyusun struktur agar pemerintahan berjalan merata hingga ke pelosok
Warisan
Kekuasaan Puang ri Maggalatung diteruskan oleh anaknya, La Madderemmeng, sebagai Arung Peneki I.
Nama La Taddampare’ Puang Ri Maggalatung tetap hidup sebagai simbol masa keemasan, dari wilayah kecil berpenduduk sedikit, berubah menjadi kerajaan luas, makmur dan tertib di Sulawesi Selatan .(ttp)



Komentar