Lapak Penjual Es Kelapa di Depan Benteng Rotterdam Dibongkar, PKL Direlokasi ke Lokasi Baru

Mengembalikan fungsi ruang publik

To The Point, MAKASSAR – Pemerintah Kota Makassar melalui Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Dinas Perdagangan serta Koperasi resmi melakukan penertiban dan pembongkaran lapak Pedagang Kaki Lima (PKL), khususnya penjual es kelapa, yang berdiri di sepanjang area depan kawasan cagar budaya Benteng Rotterdam. Kegiatan ini dilaksanakan hari ini dalam rangka mengembalikan fungsi ruang publik serta menjaga keaslian dan keindahan bangunan bersejarah yang menjadi ikon pariwisata kota ini. 

Penertiban dimulai pada pukul 08.00 WITA dengan melibatkan puluhan petugas gabungan. Sebelum melakukan pembongkaran, tim terlebih dahulu melakukan pendekatan secara persuasif dan mengingatkan kembali kepada para pedagang terkait aturan pemanfaatan ruang yang berlaku. Selama beberapa tahun terakhir, lapak-lapak penjual es kelapa dan minuman lainnya tumbuh berderet di pinggir jalan dan halaman depan benteng, sehingga menyempitkan akses jalan, mengganggu kenyamanan pejalan kaki, serta menimbulkan tumpukan sampah plastik dan daun kelapa yang sulit dibersihkan.

Penertiban Lapak Kaki Lima

Telah Melalui Tahap Sosialisasi

Wakil Ketua Bantuan Komunikasi Masyarakat dan Polisi (Bankompol), Ilham A Gani yang turun langsung memantau proses pembongkaran lapak menjelaskan, sebelum proses penertiban ini dilakukan, terlebih dahulu telah dilakukan sosialisasi, dan sempat menuai protes dan akai penolakan dari para pedagang kaki lima. 

"Langkah ini telah melalui proses sosialisasi bertahap selama sebulan terakhir, kepada para pedagang itu telah disampaikan imbauan baik secara lisan maupun tertulis agar memahami bahwa kawasan depan Benteng Rotterdam termasuk dalam zona pelestarian budaya yang tidak boleh dijadikan tempat berjualan secara permanen." jelasnya. 

Tujuan penertiban pedagang kaki lima itu bukan melarang mereka untuk berusaha, melainkan mengatur agar aktivitas perdagangan tidak merusak aset milik umum. 

Dalam pelaksanaannya, para pedagang terlebih dahulu diminta memindahkan barang dagangan dan perlengkapan usahanya secara sukarela. Setelah area dikosongkan, petugas kemudian membongkar bangunan lapak yang bersifat tetap maupun semi-permanen agar tidak digunakan kembali. Seluruh proses berjalan tertib dan kondusif tanpa adanya insiden perlawanan, karena sebelumnya pemerintah telah menyiapkan lokasi untuk relokasi yang layak di pasar baru, tidak jauh dari benteng Rotterdam. 

"Para pedagang yang terkena penertiban kini dipindahkan ke lokasi baru yang berjarak sekitar 300 meter dari kawasan benteng, tepatnya di area terpadu yang telah disiapkan pemerintah." lanjut A Gani. 

Siap Dipindahkan
Lokasi ini dilengkapi dengan atap yang memadai, tempat pembuangan sampah, saluran air bersih, serta akses jalan yang mudah dijangkau oleh pengunjung dan wisatawan. Di tempat baru tersebut, setiap pedagang mendapatkan tempat usaha yang teratur dan tetap, sehingga aktivitas jual beli dapat berjalan lebih nyaman. 

Bukan Dilarang Berdagang, tapi Sekedar Ditertibkan

Salah seorang pedagang es kelapa, Muhsin, mengaku awalnya merasa khawatir dan ragu pindah tempat. “Sudah bertahun-tahun berjualan di sini, jadi khawatir pembeli berkurang. Tapi setelah melihat tempat baru dan mendengar penjelasan petugas, kami mengerti juga. Ini demi kebaikan bersama agar benteng tetap terjaga keindahannya,” katanya. 

Para pedagang berharap lokasi baru tetap ramai dikunjungi pengunjung yang datang berwisata ke Benteng Rotterdam.

Sementara itu, pengunjung dan wisatawan menyambut baik penataan ini. Salah satu wisatawan asal Surabaya mengaku senang melihat area depan benteng kembali bersih dan lapang. “Sekarang pemandangannya lebih bagus, kita bisa melihat bentuk benteng secara utuh tanpa terhalang lapak-lapak. Ini sangat mendukung kenyamanan berwisata,” ujarnya.

Pemerintah Kota Makassar menegaskan akan terus melakukan pengawasan rutin di kawasan tersebut agar tidak ada lagi lapak yang berdiri kembali di tempat terlarang. Selain itu, pihak pemerintah kota juga akan terus memantau kondisi lokasi relokasi untuk memastikan fasilitasnya selalu terpelihara dan memudahkan para pedagang menjalankan usahanya.

Penataan ini menjadi bukti nyata bahwa pelestarian warisan budaya dan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan beriringan. Dengan lokasi yang teratur, kebersihan lingkungan terjaga, serta keindahan kawasan bersejarah tetap terpelihara, diharapkan Benteng Rotterdam semakin menarik dikunjungi wisatawan, sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar. (ttp) 

Baca ki Juga

Mappalette Bola: Cerminan Semangat Kebersamaan dan Jiwa Gotong Royong Masyarakat Bugis Sejak Dahulu Kala

Komentar