Mappalette Bola: Cerminan Semangat Kebersamaan dan Jiwa Gotong Royong Masyarakat Bugis Sejak Dahulu Kala

Penulis: Khairil Anas 

Di tanah leluhur suku Bugis, memindahkan rumah bukan sekadar pekerjaan berat, melainkan pesta persaudaraan. Puluhan tangan menyatu, langkah serentak berirama, mengangkat dan melangkah bersama. Inilah Mappalette Bola, cerminan nyata semangat gotong royong: beban berat menjadi ringan jika dipikul bersama‑sama

Tradisi Mappalette Bola gotong royong memindahkan rumah panggung Bugis

Tradisi Memindahkan rumah panggung masyarakat Bugis

To The Point, SOPPENG, Di tengah kekayaan adat istiadat dan warisan budaya Sulawesi Selatan, terdapat satu tradisi unik yang hingga kini masih hidup dan menjadi bukti nyata kekuatan persaudaraan masyarakat Bugis. Tradisi itu bernama Mappalette Bola, yaitu kegiatan memindahkan rumah panggung dari satu tempat ke tempat lain tanpa membongkar bangunan tersebut. 
Bagi masyarakat Bugis, hal ini bukan sekadar pekerjaan fisik semata, melainkan upacara yang sarat makna, lambang nyata dari semangat persatuan, kerja sama, dan kebersamaan yang kokoh.
 
Makna dan Asal‑Usul Tradisi
Secara harfiah, Mappalette Bola berarti “mengangkat dan memindahkan rumah”. Sejak zaman dahulu, rumah bagi orang Bugis bukan sekadar tempat berlindung dari panas dan hujan, melainkan dianggap sebagai anggota keluarga yang hidup, tempat berkumpulnya kasih sayang, warisan leluhur, serta simpanan berkah dan doa. Oleh sebab itu, jika harus berpindah lokasi, rumah tidak boleh dirusak atau dibongkar sewenang‑wenang, melainkan harus dipindahkan secara utuh dan hormat.
Tradisi ini tumbuh sejalan dengan kebiasaan masyarakat yang hidup menyatu dengan alam. Ketika tanah tempat tinggal mulai tidak subur, terancam banjir, atau dianggap tidak lagi memberikan ketenangan menurut petunjuk adat, maka keluarga akan memutuskan berpindah. Namun rumah panggung yang dibangun kokoh dari kayu‑kayu pilihan itu tetap dipertahankan dan dipindahkan secara utuh ke tempat baru. 

Persiapan dan Prosesi Adat
 Sebelum hari pelaksanaan, segala sesuatunya telah disiapkan dengan tertib. Pertama‑tama dilakukan musyawarah untuk menentukan waktu yang baik menurut perhitungan hari dan bulan yang menguntungkan. Kemudian, kepala keluarga menyampaikan undangan kepada kerabat, tetangga, dan warga sekitar. 
Biasanya undangan disampaikan di mesjid, ketika selesai sholat Jumat. Bertepatan ketika itu warga sekampung sedang berkumpul untuk menunaikan sholat Jumat. 
Saat itulah pengurus mesjid menyampaikan undangan gotongroyong "mappalette bola", atau memindahkan rumah panggung milik salah seorang warga, dan tidak ada yang menolak undangan ini. Setiap orang menganggapnya sebagai kewajiban sekaligus kehormatan untuk ikut serta.
 
Rumah panggung masyarakat Bugis 
memiliki struktur yang istimewa: tiang‑tiang kuat, rangka kayu yang saling mengunci tanpa paku berlebihan, sehingga utuh dan lentur namun tetap kokoh. Agar dapat digeser, di bagian bawah rangka dipasang balok‑balok kayu melintang yang berfungsi seperti landasan dan peluncur. Seluruh warga kemudian berbaris rapi mengelilingi bangunan.
 
Sebelum mulai mengangkat, diadakan doa bersama dan pemberkatan oleh pemuka adat atau tokoh agama sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan permohonan keselamatan. Kemudian, atas aba‑aba serentak, puluhan hingga ratusan orang mengangkat dan mendorong rumah perlahan‑lahan. Langkah kaki disusun selaras, suara seruan diucapkan berirama agar tenaga menyatu dan gerakan berjalan seimbang.
 
Selama perjalanan, para tetua berjalan di depan memberi petunjuk jalan, sementara kaum muda menjaga bagian samping dan belakang. Di samping itu, juga disiapkan hidangan sederhana berupa nasi, lauk‑pauk, dan minuman sebagai tanda terima kasih kepada semua yang hadir.
 
Simbol Semangat Gotong Royong
Inti paling berharga dari Mappalette Bola terletak pada nilai kebersamaannya. Tidak ada satu orang pun yang sanggup melaksanakannya sendirian.
 
Orang-orang siap Mappalette Bola
Rumah yang berat dan besar itu hanya bisa bergerak jika tenaga semua orang menyatu menjadi satu kekuatan besar. Hal ini sejalan dengan falsafah hidup masyarakat Bugis: Mali Siparappe, jika hanyut saling menyelamatkan; Rebba Sipatokkong, jika rebah saling menegakkan, serta Sipakatau dan Sipakalebbi, saling menghargai dan saling memuliakan.
 
Dalam tradisi ini terlihat jelas bahwa kepentingan satu keluarga adalah kepentingan seluruh warga kampung. Tidak ada pembedaan antara kaya atau miskin, berkuasa atau sederhana. Semua bekerja berdampingan dengan kedudukan yang sama, mengangkat beban yang sama beratnya. Semangat ini membuat ikatan persaudaraan di masyarakat Bugis semakin erat dan kuat.
 
Nilai ini juga selaras dengan prinsip Lempu dan Getteng, yaitu hidup jujur dan teguh pendirian. Ketika bekerja sama, kepercayaan tumbuh dan menjaga hubungan tetap lurus dan jujur. Inilah sebabnya Mappalette Bola sering disebut sebagai sekolah hidup tentang persatuan.
 
Mappalette Bola di Zaman Sekarang
Seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman, bentuk pemukiman berubah, banyak rumah kini dibangun dengan bahan yang lebih kekal dan sulit dipindahkan. Kegiatan Mappalette Bola pun sudah jarang terlihat. 
Semangat gotong-royong pun perlahan hilang. 
Tradisi ini, harus tetap dilestarikan dalam kehidupan masyarakat. Beberapa upaya untuk melestarikannya, dapat dilakukan dalam bentuk pementasan teater, upacara budaya, maupun pembelajaran di sekolah-sekolah.
 
Sebab yang utama dari tradisi ini adalah nilai‑nilai intinya, yang diharapkan tetap hidup dan diterapkan dalam kehidupan sehari‑hari. Ketika ada tetangga yang mendirikan bangunan baru, mengalami musibah, atau merayakan hari bahagia, semangat gotong royong yang sama seperti pada pemindahan rumah panggung itu selalu tampak nyata.
 
Mappalette Bola adalah bukti bahwa budaya masyarakat Bugis sejak dahulu sudah memahami kebenaran sederhana, bahwa beban berat menjadi ringan jika dipikul bersama‑sama. Sebagai warisan leluhur yang berharga, tradisi ini mengingatkan kita bahwa kekuatan utama suatu bangsa dan masyarakat terletak pada persatuan dan kerja sama yang kokoh. (ttp) 
 
 Baca ki Juga, 



 
 

Komentar

Anonim mengatakan…
saya ingat rumahnya nenek di kampung,waktu diangkat ke kebun,orang sekampung datang semua membantu mengangkat ramai-ramai.