Di Tengah Badai Kekeringan, Petani Sulsel Masih Bisa Tersenyum

Penulis: Khairil Anas 



Bumi Sulawesi Selatan membara. Matahari bersinar terik tanpa rehat, sungai-sungai menyusut, dan tanah retak menahan rintih. Di mana-mana orang mengeluh, resah, dan cemas. Namun di ladang-ladang Sulawesi Selatan, ada wajah-wajah yang tetap tenang. Ada tawa yang masih terdengar di danau, di antara batang padi yang masih hijau, meski langit seolah tak kunjung menurunkan titik embun.
 
Mengapa mereka tidak menyerah? Mengapa di tengah badai kekeringan yang datang menimpa, para petani ini justru masih bisa tersenyum?
 
Bukan karena mereka tidak merasakan panasnya cuaca yang terik. Bukan karena mereka tidak melihat tanah yang kering kerontang. Mereka tersenyum karena sejak awal mereka tidak pernah memandang sawah sekadar tanah untuk ditanami lalu dipanen. Bagi petani Bugis, sawah adalah warisan leluhur yang diselimuti nilai spiritual, tradisi, dan hukum adat pangngadereng. Bagi masyarakat Bugis-Makassar, tanah bukan untuk dieksploitasi, melainkan amanah untuk dirawat dengan penuh penghormatan. Karena dengan menghormati alam,maka alampun akan ramah dengan kita, menyediakan segala yang kita butuhkan.

Selain penghormatan kepada alam, petani Bugis juga melakukan penghormatan kepada diri. Salah bentuknya, saat akan bekerja di ladang maupun sawah, para petani Bugis selalu membawa perbekalan air minum dalam cerek air berwarna emas, untuk menghindari dehidrasi saat tengah bekerja di bawah panas terik matahari.

Klik gambar ini untuk melihat koleksi cerek air di Shopee

Setiap Langkah Adalah Penghormatan

Penghormatan itu terlihat sejak langkah pertama musim tanam. Sebelum cangkul menyentuh tanah, diadakan Mappalili, yakni acara pembukaan lahan yang bukan sekadar upacara, melainkan pernyataan hati dan sikap memohon izin kepada Sang Pemilik Bumi, sekaligus wujud memuliakan tanah yang akan menjadi jalan datangnya rejeki kepada mereka. 
Sebelum bibit ditancapkan, ada Maddoja Bine,  ritual yang dilakukan untuk berjaga semalaman suntuk, menunggui benih padi yang sedang direndam, sebelum ditabur ke persemaian keesokan harinya. 

Acara ini diisi dengan tradisi Massureq (pembacaan kitab sastra kuno Sureq La Galigo) untuk menghibur sekaligus membujuk dewi padi agar memberikan berkah penanaman padi yang dijalankan bersama-sama, bukan sendirian. 

Tudang Sipulung dan Mappammula, yakni upacara musyawarah adat dan penentuan hari baik untuk mulai turun ke sawah agar risiko gagal panen bisa diminimalkan secara bersama-sama.

Saat padi mulai tumbuh, dijaga, dan menguning, ada lagi yang disebut Matoana Ase, yakni menjaga tanaman hingga matang dengan penuh kesabaran dan doa.
 
Seluruh rangkaian ini bukan ritual mistik dan bukan pula sekadar kebiasaan. Ia adalah bentuk penghormatan kepada alam dan rasa tanggung jawab mengelolanya dengan baik dan dalam kebersamaan. Tidak ada yang merasa lebih tinggi dari tanah, tidak ada yang merasa tanah ada di bawah kekuasaannya, semua berdiri setara, merawat apa yang dititipkan.

Pemanfaatan Semua Lahan, Cegah Tanah Menganggur Percuma

Petani di Sulawesi Selatan juga terbiasa memanfaatkan lahan-lahan kosong di pematang sawah atau di pinggir-pinggiran kebun. Pantang bagi mereka membiarkan lahan kosong terbengkalai. Apalagi dengan adanya bantuan pompa air dari pemerintah, mereka menanam berbagai jenis tanaman untuk kebutuhan dapur sendiri seperti cabai dan sayuran hijau, baik di pekarangan rumah maupun di pematang sawah, sehingga hal itu bukan lagi sekadar hobi, melainkan langkah taktis untuk mendukung ketahanan pangan keluarga.

Semangat kemandirian pangan ini, sepatutnya kita tiru, bukan hanya dilakukan oleh petani dan tidak hanya di area persawahan luas, tetapi juga bisa kita mulai dari pekarangan rumah kita sendiri melalui metode modern yang hemat air, yakni dengan sistem hidroponik. 
Klik gambar ini untuk melihat perlengkapan hidroponik di Shopee

Angka yang Membuktikan Ketangguhan dan Buah dari Adab Kerja 

Dari kearifan lokal yang terjaga ini, bisa kita saksikan buktinya. Berdasarkan data terbaru hingga September 2026 ini, produksi beras di Sulawesi Selatan mencatatkan angka yang luar biasa, yakni menembus 2,6 juta ton. Angka ini bahkan mengalami kenaikan lebih dari 52 ribu ton jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
 
Di saat daerah lain tiarap akibat kekeringan, bumi Sulawesi Selatan justru membuktikan kelasnya sebagai penyangga pangan nasional yang tangguh. Ini bukan sekadar keberuntungan, melainkan buah dari kearifan yang dijalankan turun-temurun.
 
Di balik setiap ton beras itu bukan hanya buah dari tetesan keringat petani, tetapi ada berkah dari kebersamaan tudang sipulung, atau musyawarah bersama untuk berbagi tugas, berbagi air untuk pengairan dan memutuskan apa yang terbaik bagi semua. 

Dalam keterbatasan itu, petani Bugis di Sulawesi Selatan bekerja dengan saling berbagi,  membuat kekuatan mereka berlipat ganda karena mereka tidak bekerja sendiri.

Berbagi Air dengan Adil, Bekerja Bersama

Saat kemarau datang dan air semakin sulit didapat, semangat kebersamaan itulah yang menjadi benteng terkuat. Pemerintah menyalurkan bantuan sumur bor ke wilayah-wilayah yang mulai kering. Sebuah pertolongan yang disambut baik dan dimanfaatkan sepenuhnya. Namun sumur itu tak akan berarti tanpa tangan yang mengangkat airnya.
 
Maka petani bangun lebih pagi, berjalan lebih jauh, mengatur aliran air dengan cermat,air yang sedikit-sedikit dibagi rata ke setiap petak sawah. Tak ada yang berebut, tak ada yang menumpuk air untuk sendiri. Itulah hasil dari tudang sipulung, yang dipraktekkan dalam tindakan nyata. Air yang sedikit tetap cukup kalau dibagi dengan adil. Demikianlah petani Bugis menjemput air dan membaginya dengan adil, sehingga tanaman mereka tetap hidup.
 Tak ada saling rebut,sehingga ada yang berlebihan dan ada yang kekurangan.
 
Bantuan sumur bor menjadi sarana, tetapi kegigihan dan kebersamaanlah yang menjadikan air itu sampai ke akar padi. Kerja sama antara kebijakan yang hadir dari atas dan ketekunan yang tumbuh dari bawah, dijalankan dengan tata kelola yang diajarkan leluhur. 

Menyimpan di Waktu Berlimpah  Sebuah Adab Ajaran Leluhur 

Orang tua kita dulu berpesan: "Simpan saat banyak, supaya tidak meratap saat sedikit."
 
Saat berlimpah, hasil panen tidak semuanya dijual. Sebagian disimpan di lumbung, bukan untuk ditimbun agar harga naik, bukan pula untuk dimakan sendiri saja. Itu adalah cadangan untuk saudara kita yang kekurangan esok hari. Lumbung bukan gudang pribadi, ia adalah jaminan bersama. Maka saat kekeringan datang, pintu lumbung terbuka, dan tak ada yang kelaparan. 

Hidup Selaras dengan Irama Alam

Mereka tidak memaksa alam mengikuti kehendak mereka. Mereka menanam padi yang lebih tahan panas saat kemarau, menampung air di parit kecil agar tak terbuang, menyesuaikan waktu tanam dengan perubahan musim. Semua itu adalah inti dari kearifan leluhur, hidup selaras dengan alam, bukan menaklukkannya. Karena mereka menghormati alam, alam pun menjaga mereka.
 
Kekeringan mengajarkan mereka:
- Bahwa air adalah titipan yang harus dijaga, bukan dihamburkan.
- Bahwa kebersamaan lebih kuat daripada keterbatasan.
- Bahwa lumbung yang sesungguhnya bukan dari kayu dan jerami — melainkan saling berbagi di antara sesama
 

Penutup 

Maka di tengah teriknya kemarau yang menguji, kita diajarkan satu kebenaran yang sederhana namun mendalam, bahwa bukan hujan semata yang menjaga keberlangsungan hidup kita, melainkan penghormatan kepada tanah, ketekunan tangan, kebersamaan sesama, dan keyakinan bahwa semua ini adalah titipan yang harus dijaga.
 
Kita bersyukur kepada Allah SWT yang menumbuhkan kehidupan dari tanah yang kita pijak. Kita bersyukur atas petani yang tak pernah lelah membanting tulang, atas warisan kearifan leluhur yang tetap membimbing, dan atas rezeki yang tetap mengalir meski alam sedang dalam ujian.
 
Dan pesan terindah yang harus kita simpan baik-baik, 
 Jagalah alam, maka alam akan menjagamu. 
Karena kita bukan pemilik bumi ini. Kita hanyalah penjaga yang diamanahi oleh Yang Maha Pemilik. Sebagaimana leluhur kita merawat sawah dengan mappalili, maddoja bina, dan matoana ase, dengan penuh kasih dan penghormatan. Demikianlah kita pun wajib merawat sungai, hutan, dan tanah untuk generasi kita yang akan datang.
 
Selama kita menjaga alam dengan tulus, selama kita saling berbagi dengan ikhlas, dan selama kita memegang teguh nilai-nilai luhur yang diwariskan, maka lumbung pangan kita, lumbung kasih kita, tak akan pernah kosong. Karena Yang menumbuhkan padi dan menjaga mata air,bDia-lah pula yang menjaga kelangsungan hidup kita semua, selamanya.

Daftar Buku Terbaik untuk Anda

Bagi yang ingin mempelajari cara pemanfaatan lahan kosong untuk program ketahanan pangan, lengkapi koleksi buku Anda dengan 
Buku Panduan Hidroponik , Buku yang berisi acuan lengkap dan mudah, mengenai teknik dasar hidroponik, hingga perawatan tanaman ini tersedia di Lazada. 
 
Bertani di Lahan Sempit, buku yang direkomendasikan bagi mereka yang ingin memanfaatkan pekarangan sempit di rumah. Berisi panduan cara bertani ala perkotaan, panduan dasar membuat kompos, memilih benih, hingga strategi pemasaran hasil panen skala urban. Buku ini tersedia dan bisa Anda dapatkan langsung di Shopee. 

Rekomendasi Buku-buku praktis bertema Urban Farming (Pertanian Perkotaan) itu, bersumber dari penerbit ttepercaya.
 
Buku Tema Kemandirian Ekonomi Keluarga,  Buku yang bisa Anda peroleh via Blibli ini, direkomendasikan bagi yang ingin mendalami masalah kemandirian pangan dan ketahanan ekonomi. Sebuah buku edukasi seputar cara mengelola ketahanan ekonomi dan pangan berbasis keluarga.


Komentar