Bara Dendam di Kandea Makassar yang Tak Pernah Padam

Penulis: Gempita Prahara
Aparat Kepolisian Berjaga di Daerah Konflik

Bentrokan massal kembali pecah di kawasan Tallo Makassar, Ahad (27/9/2026) dini hari. Bentrokan yang mengakibatkan satu orang remaja berusia 19 tahun meninggal dunia itu, awalnya dipicu oleh provokasi suara knalpot bising. Selain menewaskan seorang remaja, massa juga membakar satu unit pos pengamanan gabungan TNI-Polri. 
Kerusakan akibat bentrokan antarmassa itu menggambarkan besarnya eskalasi dari konflik laten dan dendam lama antarkelompok yang telah mengakar di wilayah tersebut selama beberapa dekade.

Dendam Lama yang Terus Membara

Konflik antarkelompok warga di kawasan Kandea, Kecamatan Tallo, Makassar ini sebenarnya telah bermula sejak tahun 1989. 
Sumber dari Polrestabes Makassar mencatat, perselisihan komunal ini telah berlangsung laten selama kurang lebih 36 tahun dan terus mengakar turun-temurun secara lintas generasi hingga saat ini. 

Karena Pertikaian Orang Tua di Masa Lalu

Sumber To The Point menyebutkan, konflik horizontal ini pertama kali pecah pada tahun 1989, karena perselisihan antara orang tua di antara warga lorong yang saling berdekatan. Anak-anak remaja yang beranjak dewasa, masih terus mengingat kejadian lama itu, akhirnya menumbuhkan dendam dalam diri, yang mudah terpicu oleh persoalan kecil. 
Setiap ada gesekan sekecil apapun, dengan mudah berkobar menjadi peristiwa besar dan berujung kepada bentrokan antar kelompok warga. Konflik demi konflikpun terjadi, meneruskan permusuhan masa lalu tersebut kepada anak-anak muda saat ini. Bahkan, dalam sejumlah kejadian tawuran beberapa tahun terakhir, telah melibatkan anak-anak di bawah umur hingga usia 12 tahun. 

Sentimen Antar Lorong, Antar Kelompok Remaja

Kawasan Jalan Kandea sampai area sekitar Mesjid Al Markaz, Kecamatan Tallo itu, memang dihuni sekelompok warga yang tinggal di lorong-lorong yang saling berdekatan, dengan wilayah kelurahan yang berbeda-beda. Mereka hidup saling bertetangga dan berbatasan langsung, seperti Lembo, Lorong 148, Kandea, Bunga Ejayya, Beru, dan Layang.
Lingkungan padat dengan beragam status sosial seperti itu, memang rawan sekali menimbulkan konflik horizontal, antarwarga maupun antarapemuda. Umumnya pemicu konflik muncul sendiri dari kalangan remaja. Ada pula sinyal mengenai  faktor kesengajaan untuk memelihara konflik itu terus membara, untuk dikobarkan setiap saat bila diperlukan.

Akar Masalah Sosial & Ekonomi dan Faktor Kesengajaan

Masalah kesenjangan ekonomi, status sosial, harga diri kesukuan, keyakinan dan dendam lama, memang merupakan faktor paling potensial dan mudah dipicu untuk menimbulkan konflik di tengah masyarakat, utamanya untuk tujuan pengalihan isu, atau untuk menutupi aksi-aksi kriminal dan pelanggaran hukum yang dilakukan sekelompok orang. 
Ada unsur kesengajaan untuk membiarkan kesenjangan sosial dan kemiskinan itu terus berlanjut di tengah warga, untuk dipicu menjadi kobaran kekacauan setiap saat. 

Baca, Kemiskinan sebagai Komoditas: Ketika Janji Manis Menjadi Angin Sorga yang Memabukkan

Wilayah utara Makassar ini memang termasuk titik lokasi dengan kepadatan penduduk yang tinggi, ditambah adanya kesenjangan ekonomi yang cukup curam, sehingga menumbuhsuburkan sentimen sosial abadi. 
Faktor ekonomi rendah, sedangkan gengsi dan harga diri kelompok sangat tinggi, sehingga setiap kali ada satu kelompok yang merasa tersinggung atau diserang oleh kelompok lorong sebelah, seluruh anggota kelompok merasa wajib melakukan pembalasan demi mempertahankan kehormatan kelompoknya. Dan faktor-faktor seperti inilah yang dimanfaatkan oleh  pelaku kejahatan untuk bersembunyi. 

Pelaku Kejahatan Sengaja Memelihara Dendam Lama Terus Membara

Hasil penyelidikan pihak kepolisian menyebutkan, dendam lama antar warga Kandea, Makassar itu, memang sengaja terus dirawat dan dipelihara oleh kelompok-kelompok pelaku kriminal. Dengan tujuan, untuk pengalihan isu kriminalitas. Pihak kepolisian mengendus adanya aktor intelektual atau jaringan tertentu yang diduga sengaja mendanai pengadaan batu dan petasan, untuk digunakan sebagai senjata saat terjadi bentrokan. Jaringan pelaku kriminal inilah yang memprovokasi tawuran demi mengaburkan aktivitas ilegal, seperti transaksi narkoba atau kasus kriminalitas lainnya di kawasan lorong saat aparat sedang sibuk meredam massa. 

Ibarat Benang Kusut sehingga Penyelesaian Sulit

Akar masalah yang telah menjadi warisan sejarah masa lalu, yakni dari sekedar perselisihan antar warga di tahun 1989, sehingga kerap kali, anak-anak remaja yang bentrok itu sudah tidak mengetahui lagi secara pasti apa penyebab sesungguhnya mereka bisa saling benci sedemikian rupa. 
Satu-satunya yang mereka ketahui, bahwa harga diri kelompok dan ketenangan lorong harus dibela. Siapa pun yang mengusik ketenangan lorong mereka, harus dibalas secara massal. Yang awalnya dipicu oleh dendam lama, bergeser menjadi loyalitas kelompok, yang secara terus-menerus memupuk rasa saling bermusuhan antara lorong. 

Apa yang Dilakukan Pemerintah Kota Makassar? 

Menyikapi situasi itu, Pemerintah Kota Makassar tidak tinggal diam. Beberapa upaya nyata yang dilakukan Pemkot Makassar untuk menghapus dendam tersebut, antara lain;

Program Pembinaan Pemuda dan Pemberdayaan Ekonomi Warga

Pemerintah Kota Makassar, sangat memahami bahwa akar masalah dari terjadinya tawuran dan perkelahian remaja, sering kali disebabkan oleh tingginya angka pengangguran dan minimnya aktivitas produktif pemuda di wilayah lorong padat penduduk itu, maka dibuatlah sebuah program khusus: 

1. Pelatihan Keterampilan Siap Kerja

Pemerintah kota Makassar melalui dinas sosial, masuk ke lorong-lorong rawan bentrok untuk memberikan pelatihan informal praktis yang diminati anak muda, seperti teknik reparasi AC (cuci AC) dan mekanik bengkel motor.

2. Penyediaan Jalur Pendidikan Informal

Untuk program ini, diberikan kepada pemuda putus sekolah yang tidak memiliki ijazah formal. Pemkot memfasilitasi program pendidikan kesetaraan (informal) untuk membantu mereka mendapatkan kompetensi yang layak, untuk digunakan dalam melamar pekerjaan. 

3. Pemberdayaan Berbasis Kelurahan

Untuk melancarkan program ini, Pemerintah Kota Makassar mengumpulkan masukan dai pihak kelurahan, mengenai jenis pelatihan apa yang diminati oleh warganya. Pemberdayaan sosial-ekonomi yang diberikan, harus benar-benar sesuai dengan minat dan kemampuan warga di empat wilayah rawan konflik di kecamatan Tallo itu. 

Melalui program pemberdayaan dan pelatihan itu, pemerintah kota Makassar dan kita semua berharap konflik horizontal yang sering terjadi dan telah banyak menimbulkan korban jiwa dan material di wilayah itu segera berhenti. Demikian pula dengan pelatihan dan pembinaan yang dilakukan itu semoga dapat memutus mata rantai dari dendam lama di antara warga. 

Tangkap Kelompok yang Memancing di Air Keruh

Yang tidak kalah pentingnya, setelah program pemerintah kota Makassar itu telah berjalan dan berhasil meredam konflik. Maka pihak kepolisian juga harus memastikan, bahwa pihaknya telah membersihkan kelompok pelaku kriminal yang selama ini sengaja memelihara konflik antar warga di wilayah itu. 
Sebab sebagus apapun program pemerintah, bila pelaku kejahatan masih terus berkeliaran, maka program itu akan berjalan percuma. Oleh karena itu, sinergi antara aparat dan masyarakat sangat penting. Banyak organisasi kemasyarakatan di kota Makassar yang bisa dilibatkan dalam memantau dan menjaga keamanan lingkungan. Salah satu di antaranya adalah Bankompol Kamtibmas (Bantuan Komunikasi Kepolisian - Keamanan dan Ketertiban Masyarakat), yang kepengurusannya sudah tersebar di setiap kecamatan di kota Makassar. 

Baca, Komunitas Penggemar HT yang Kini Menjadi Bankompol Kamtibmas Sulsel 

Kelompok masyarakat seperti ini sangat efektif untuk diberdayakan, baik oleh pemerintahan maupun pihak kepolisian dalam membantu mewujudkan dan menjaga keamanan lingkungan.
Salam Damai. 

Komentar