Penulis: Khairil Anas
Seringkali kita mengira kepemimpinan adalah soal kuasa atau jabatan yang identik dengan perintah dan memerintah. Namun setelah melangkah dan meleburkan diri bertahun-tahun mengabdi, mengalami jatuh bangun, dan merasakan nikmatnya kebersamaan dalam berbagai organisasi, maka aku sampai pada satu keyakinan yang jernih, bahwa Kepemimpinan itu bukan soal tangan yang mengepal dan siap menghukum, bukan soal mulut yang memerintah, melainkan keindahan seni yang menciptakan rasa aman dan nyaman bagi semua orang.
Bertahun-tahun, saya mengemban amanah, dalam berbagai posisi dan jabatan organisasi, mulai dari sekretaris, humas, dan menjadi pemimpin organisasi kemitraan bersama kepolisian, aku selalu menanamkan satu prinsip sederhana namun mendalam kepada seluruh rekan-rekan:
"Kita ini sama, sejajar. Aku bukan bos, bukan penguasa, bukan orang yang lebih hebat dari kalian."
Aku katakan kepada teman-teman, bahwa kehadiranku bukan untuk memerintah, bukan untuk mengatur-atur hidup teman-teman semua. Aku hanya sosok yang diberi kepercayaan untuk menjaga, mendampingi, dan melindungi.
Segala hal yang berkaitan dengan organisasi ini, mulai dari kegiatan, arah kebijakan, hingga keputusan penting, bukan berada di genggaman ketua semata, melainkan ada di tangan kalian, para anggota. Organisasi ini milik kalian, rumah bersama tempat kita tumbuh dan berkarya bersama.
Satu hal yang tak pernah lelah aku ulang di setiap pertemuan:
"Di antara kita tidak ada yang paling pintar atau paling hebat. Setiap orang memiliki kelebihan dan karunia yang berbeda-beda."
Perbedaan pandangan, bakat, dan latar belakang itu bukan celah yang memisahkan, melainkan batu bata yang menyusun kekuatan kita menjadi kokoh. Ketika kita menyatukan keberagaman itulah kita menjadi tak tergoyahkan. Ibarat sebuah bangunan gedung yang berdiri kokoh, karena di bangun dari banyak material yang berbeda-beda, maka begitu pula organisasi ini, bisa besar, kuat dan berkembang karena di dukung oleh banyak orang dari latar belakang, kemampuan, keahlian dan wawasan pandangan yang berbeda-beda.
Dan benarlah adanya prinsip kepemimpinan yang sederhana ini berbuah manis. Rekan-rekan merasa berharga, merasa dilihat, didengar, dan diayomi. Tidak ada perasaan terpaksa atau tertekan.
Namun hidup berubah ketika pola kepemimpinan berubah. Ketika aku harus mundur karena alasan kesehatan, dan gaya memimpin bergeser menjadi otoriter, kaku, serta penuh aturan yang membebani—semuanya berguncang.
Kekacauan muncul, anggota perlahan menjauh, suasana menjadi gelisah. Sang ketua yang baru pun akhirnya ikut terjepit, bingung, dan terpaksa meminjam tenaga dari luar karena merasa sendirian. Hal ini membuktikan satu kebenaran yang pahit namun nyata: Kepemimpinan tanpa jiwa hanya menjadi ancaman bagi yang dipimpin, dan menjadi siksaan dan beban berat bagi pemimpinnya sendiri.
Dari pengalaman ini aku yakin sepenuhnya: Organisasi itu ibarat sebuah negara kecil, tempat kita berlatih dan belajar menjadi kepala negara dan warga negara yang baik, jauh sebelum mengelola negeri yang lebih besar.
- Di sini kita belajar setara dan saling menghormati.
- Di sini kita belajar bahwa kekuasaan adalah amanah melayani, bukan alat menindas.
- Di sini kita belajar bahwa keamanan dan ketenangan hati rakyat adalah tujuan utama pemerintahan.
Andai saja para pemimpin di negeri besar kita ini mau memulai dari hati yang sama, tidak merasa lebih tinggi, tidak menggunakan tangan besi untuk memukul, melainkan merangkul rakyat untuk berdiri sejajar layaknya saudara sendiri, mengembalikan kedaulatan kepada rakyat, dan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan. Maka aku yakin sepenuhnya, Indonesia ini akan sampai pada cita-cita luhur nenek moyang: GEMAH RIPAH LOH JINAWI, TOTO TENTERAM KERTO RAHARJO.
Negara yang makmur tanahnya, damai hatinya, aman setiap sudutnya, dan sejahtera hidupnya
Karena kemakmuran sebuah negara, bukan karena banyak aturan ketat, kesejahteraan rakya bukan dihasilkan oleh tangan besi, pemerintah yang otoriter, melainkan karena pemimpinnya mengerti bahwa memimpin adalah seni melayani, mencintai, dan menyatukan. (ttp)
Baca ki Juga,

Komentar