Penulis: Khairil Anas
Peringatan Kemerdekaan ke-81 tahun, Republik Indonesia telah tiba. Bendera Merah Putih telah berkibar di tiang-tiangnya, lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan di berbagai upacara-upacara resmi, dan pidato-pidato kenegaraan disampaikan dari atas panggung. Namun, jika kita menatap lebih dalam ke jalanan, ke halaman rumah warga, ke ruang-ruang di mana rakyat menjalani hari-harinya — ada sesuatu yang terasa berbeda. Sesuatu yang pelan namun nyata: suasana yang tidak sebegitu meriah seperti tahun-tahun sebelumnya.
Bukan berarti bendera tidak dicintai. Bukan berarti lagu kebangsaan tidak lagi membangkitkan semangat. Tapi ada keheningan yang menyelimuti perayaan kali ini — keheningan yang bukan berasal dari ketidakpedulian, melainkan dari beban yang semakin berat di pundak rakyat. Ketika seorang ibu harus memikirkan apa yang akan dimasak untuk makan siang, ketika seorang ayah menghitung sisa gaji yang tak lagi mencukupi kebutuhan yang terus naik, ketika anak-anak menatap tagihan sekolah yang kian memberatkan — maka euforia perayaan kemerdekaan itu terasa jauh, terasa seperti milik orang lain, perayaan ini bukan untuk mereka.
Hening tapi Sesungguhnya Memekakkan Telinga
Inilah realitas pertama yang perlu kita pahami: keheningan rakyat bukanlah tanda ketidakcintaan pada negeri, melainkan tanda bahwa mereka sedang berjuang untuk hal yang lebih mendasar — yakni, bertahan hidup. Bagi jutaan warga hari ini, kemerdekaan yang dirayakan di atas panggung, di tengah lapangan, belum terasa sampai di dapur, di pasar, dan di tempat kerja. Memang, rakyat tetap mengibarkan bendera dengan patuh — memasang pernak-pernik dan atribut kemerdekaan di depan rumah meski dalam keadaan lusuh, mengikuti upacara jika diwajibkan — namun di dalam hati ada pertanyaan yang tak terucap:
Sudah 81 tahun kita merayakan kemerdekaan, apakah kita benar-benar sudah merdeka dari kemiskinan, ketakutan, dan ketidakadilan?
Kita tidak boleh menyalahkan rakyat yang memilih bekerja daripada berbaris dalam gerak jalan. Kita tidak boleh menyalahkan ibu yang memilih menabung untuk makan daripada membeli atribut perayaan. Itu bukan ketidakpedulian — itu adalah prioritas hidup yang dipaksakan oleh realitas yang belum berubah. Kemerdekaan yang belum mampu memberi makan rakyat adalah kemerdekaan yang belum selesai sepenuhnya.
Keluh Kesah yang Tak Didengarkan
Di sisi lain perayaan ini, kita juga menyaksikan hal yang memprihatinkan. Di beberapa daerah, ada gerak jalan dan perayaan yang berubah menjadi pemandangan yang tidak sopan. Peserta, yang sebagian besar perempuan — mengenakan pakaian yang terlalu minim, menyingkap roknya di hadapan tontonan warga yang berbaris di tepi jalan, sehingga pakaian dalamnya terlihat jelas. Banyak yang mencibir, banyak yang menyayangkan, dan banyak yang langsung menghakimi sebagai perilaku yang tidak bermoral dan merusak tatanan.
Memang benar, dilihat dari norma kesopanan dan tata krama, hal itu sangat keliru dan tidak pantas. Namun, jika kita berhenti sejenak untuk memahami lebih dalam — ada kemungkinan perilaku itu bukan sekadar ketidaksopanan semata. Bisa jadi itu adalah jeritan hati yang tidak punya saluran lain. Ketika suara rakyat tidak didengar di ruang-ruang kebijakan, ketika tulisan mereka dibungkam, ketika keluhan mereka dijawab dengan pidato-pidato kosong — maka emosi yang tertahan itu mencari jalan keluar sendiri, dan seringkali keluar dalam bentuk yang berantakan dan tidak teratur.
Seperti anak kecil yang tidak mampu menyampaikan kesedihannya dengan kata-kata yang baik, lalu ia menangis keras atau merusak barang di sekitarnya — bukan karena ia jahat, melainkan karena ia tidak punya cara lain untuk membuat orang dewasa memperhatikan rasa sakitnya. Demikian pula perilaku yang tidak sopan itu bisa jadi adalah bahasa protes yang terdistorsi. Mereka tidak bisa berkata
"kalian tidak adil, kalian tidak jujur," maka mereka menunjukkannya dengan cara yang sama berantakannya: "Lihatlah negeri ini telah berantakan, dan inilah cerminan dari kepemimpinan yang kalian jalankan!"
Itu tetap tidak benar, dan tetap tidak pantas dilakukan. Karena kekecewaan yang sah tidak harus diucapkan dengan cara yang salah. Pesan yang seharusnya disampaikan justru menjadi kabur ketika disampaikan dengan cara yang memalukan diri sendiri. Yang seharusnya menggugah kesadaran justru berubah menjadi bahan cemoohan. Namun, bagi para pemimpin negeri, perilaku itu seharusnya bukan sekadar dihakimi sebagai pelanggaran kesopanan — melainkan dipahami sebagai gejala bahwa ada sesuatu yang rusak di hubungan antara pemerintah dan rakyatnya.
Pesan yang Tersembunyi dalam Keheningan dan Kekacauan Perilaku
Maka ada tiga pesan mendalam yang ingin kami sampaikan di peringatan kemerdekaan ke-81 ini — tiga pesan yang lahir dari keheningan dan kekacauan yang kita saksikan bersama:
Pertama, lihatlah keheningan rakyat bukan sebagai ketidakpedulian, melainkan sebagai cermin realitas kehidupan yang semakin berat. Ketika rakyat lebih sibuk mencari makan daripada merayakan kemerdekaan, itu bukan salah rakyat — itu adalah teguran bagi para pemimpin bahwa kemerdekaan belum terasa di dapur rakyat. Kemerdekaan yang sesungguhnya bukan hanya bebas dari penjajah di masa lalu, melainkan bebas dari kelaparan, bebas dari ketakutan kehilangan tempat tinggal, bebas dari kebodohan karena tidak mampu bersekolah. Selama itu belum tercapai, maka euforia perayaan akan selalu terasa hampa bagi jutaan warga.
Kedua, pahamilah bahwa perilaku rakyat yang kurang sopan itu bisa jadi adalah protes yang tersalurkan lewat jalan yang salah. Jangan hanya menghakimi bentuknya, tapi cobalah pahami apa yang ada di baliknya. Ketika rakyat tidak punya cara lain untuk menyampaikan kekecewaannya, maka mereka menyampaikannya lewat perilaku yang berantakan — persis seperti orang yang sakit dan tidak bisa berbicara, lalu ia meronta-ronta kesakitan. Rontanya itu bukanlah kejahatan — itu adalah tanda bahwa ada rasa sakit yang tidak terobati. Tugas pemimpin bukan sekadar melarang rontanya, tapi menyembuhkan rasa sakitnya.
Ketiga, dan yang paling penting: semoga para pemimpin negeri ini mau mencermati kedua hal ini — baik keheningan yang lengang maupun kegemparan yang tidak sopan — bukan sebagai alasan untuk menindak atau menghukum rakyat, melainkan sebagai cermin untuk memperbaiki diri sendiri. Semoga keheningan itu menjadi teguran halus yang menyadarkan mereka bahwa rakyat sedang menunggu perubahan yang nyata. Dan semoga kegemparan itu menjadi peringatan keras bahwa kepercayaan rakyat sedang menipis dan harus segera dipulihkan dengan kebijakan yang adil dan tulus, bukan dengan pidato-pidato yang membual.
Kita tidak ingin menjatuhkan siapa pun dengan tulisan ini. Kita hanya ingin menyadarkan semua pihak — baik rakyat maupun pemimpin — bahwa kemerdekaan itu adalah tugas bersama yang belum selesai. 81 tahun adalah waktu yang cukup lama, namun pekerjaan memerdekakan rakyat dari kemiskinan, ketidakadilan, dan kebodohan masih menanti untuk diselesaikan.
Bagi rakyat: mari kita sampaikan keluhuran kita dengan cara yang mulia. Kekecewaan yang benar tidak perlu diucapkan dengan cara yang salah. Cahaya kebenaran tidak perlu menggunakan kegelapan untuk terlihat.
Bagi para pemimpin: lihatlah keheningan dan kegemparan itu sebagai suara rakyat yang menanti perubahan. Jangan menutup telinga, jangan memejamkan mata. Karena kemerdekaan ini bukan milik mereka yang berdiri di atas panggung — ini milik seluruh rakyat yang bekerja, berjuang, dan berharap di seluruh penjuru negeri.
Dan bagi kita semua: mari kita jadikan peringatan kemerdekaan ke-81 ini bukan sekadar perayaan masa lalu, melainkan tekad untuk membangun masa depan yang lebih adil, lebih makmur, dan lebih merdeka — bukan hanya di atas kertas dan di atas panggung, melainkan di setiap rumah, di setiap dapur, dan di setiap hati rakyat Indonesia.
Karena merdeka itu belum selesai — sampai seluruh rakyat benar-benar merdeka. (ttp)


Komentar