Toa Daeng Siti Torawang: Sang Panrita dan Jejak Nama yang Abadi

Penulis: Khairil Anas 

 
Pallawa na Paropo

To The Point, MAKASSAR – Di kawasan lingkungan Toa Daeng, Kelurahan Batua, Kecamatan Manggala, tersimpan sebuah kompleks pemakaman tua yang senantiasa dihormati warga setempat. Lokasinya kini dikelilingi permukiman padat dan jalan raya yang makin ramai, namun kesakralannya tak pernah pudar. Inilah tempat peristirahatan terakhir Daeng Siti Torawang, sosok mulia yang hidup di masa kejayaan Kerajaan Gowa, bersama suaminya, dan jejak nama keduanya kini abadi di peta jalan Kota Makassar.
 
Sosok Asli dan Pasangan Hidupnya
 
Nama yang dikenal masyarakat luas sebagai Toa Daeng adalah Daeng Siti Torawang. Ia hidup pada abad ke-17, tepat di masa puncak kejayaan Kerajaan Gowa‑Tallo.
Cantik seperti gadis India

Konon, beliau memiliki wajah yang sangat cantik dengan ciri khas menyerupai wanita asal India, warisan dari hubungan dagang dan persaudaraan erat Kerajaan Gowa dengan bangsa asing pada masa itu.
 
Beliau berpasangan hidup dengan To Daeng Bonto Bila, sosok yang juga dihormati dan memiliki peran penting di wilayah sekitarnya. Bersama suaminya, Daeng Siti Torawang bermukim di Kampung Paropo, kawasan yang pada masa itu menjadi pusat kebudayaan dan kehidupan masyarakat Kerajaan Gowa.
 
Gelar dan Pengaruh yang Luas
 
Daeng Siti Torawang dikenal sangat teguh menjunjung tinggi adat istiadat dan tradisi luhur. Karena kebijaksanaan serta perlindungan yang senantiasa beliau berikan, masyarakat menobatkannya sebagai “Pallawa na Paropo” , Sang Pelindung Kampung Paropo.
 
Makam Toa Daeng, di Jalan Toa Daeng 4, Batua, Manggala, Makassar

Bagi warga tiga wilayah bersaudara: Kampung Paropo, Bonto Bila, dan Camba Jawayya, Toa Daeng dimuliakan sebagai seorang Panrita: sosok yang dipercaya mampu melindungi, memagari wilayah, serta menjauhkan segala gangguan dan bahaya yang mengancam kedamaian kampung. Kepercayaan ini tertanam kuat karena pada masa hidupnya, beliau senantiasa menciptakan kedamaian dan menjaga keselamatan warga.
 
Jejak Nama yang Diabadikan Menjadi Jalan
 
Sebagai bentuk penghormatan abadi atas jasa dan keberkahan pasangan mulia ini, nama keduanya kini tidak hilang ditelan zaman, melainkan diabadikan menjadi nama jalan yang resmi. Hingga hari ini, terdapat Jalan Toa Daeng dan Jalan Bonto Bila yang terletak di wilayah Kelurahan Batua, Kecamatan Manggala, tidak jauh dari tempat mereka berdua pernah berjasa dan dimakamkan.
 
Jalan Toa Daeng

Nama jalan ini menjadi penanda nyata bahwa meski raga telah tiada, nama dan kebaikan mereka tetap menyapa setiap orang yang melintas, menjadi pengingat bagi generasi sekarang akan tokoh mulia yang pernah menjaga tanah ini.
 
Tradisi Memohon Restu Hingga Kini
 
Salah satu tradisi tak terputus adalah membawa hewan aqiqah ke makam ini. Setiap ada keluarga yang hendak melaksanakan aqiqah, sapi atau kambing kurban dibawa berkeliling hingga ke makam di lingkungan Toa Daeng ini. Perwakilan keluarga didampingi tetua kampung berdoa bersama, memohon rahmat Tuhan dan restu Sang Panrita, agar anak yang lahir tumbuh selamat, berbudi luhur, dan terlindungi dari segala gangguan.
 
Warga mengingatkan: ziarah dilakukan dengan benar, berdoa langsung kepada Allah SWT, memohon rahmat bagi leluhur, serta meneladani kebaikan mereka.
 
Penutup
 
Daeng Siti Torawang dan To Daeng Bonto Bila, pasangan mulia penjaga Paropo, kini beristirahat abadi di Kelurahan Batua. Namanya tidak hanya hidup dalam doa warga, melainkan terukir jelas di nama jalan yang kita lalui sehari‑hari. Di tengah hiruk‑pikuk kota modern Makassar, nama mereka adalah bukti: kebaikan yang ditanam akan selalu diingat, dan perlindungan yang diberikan akan menjadi warisan abadi bagi kampung halaman.(ttp)

Baca ki Juga, 



Komentar