Pisang Epe Makassar: Kudapan Khas Makassar yang Semakin Menggoda Selera

Penulis: Khairil Anas 

Pisang Epe' dan Sarabba'

To The Point, MAKASSAR – Menyusuri pelataran Pantai Losari kota Makassar, aroma harum pisang yang dipanggang perlahan sudah pasti akan menyapa hidung. Itulah Pisang Epe, jajanan khas yang tak pernah lepas dari identitas Kota Daeng. Sederhana bentuknya, namun rasa manis dan teksturnya yang khas mampu memikat siapa saja, mulai dari warga lokal hingga wisatawan dari luar pulau. Dulu hanya dikenal dengan cita rasa asli, kini pisang epe bertransformasi menjadi kudapan dengan beragam varian yang semakin menggoda selera.
 
Awal Mula Nama dan Asal Usul Pisang Epe
 
Kata "Epe" sendiri berasal dari bahasa Makassar yang berarti "ditekan" atau "dijepit". Sesuai namanya, pisang ini diolah dengan cara dipanggang setengah matang, kemudian ditekan hingga pipih menggunakan alat kayu khusus. Teknik ini bukan sekadar cara penyajian, melainkan cara nenek moyang kita mengolah pisang agar teksturnya lebih lembut, bumbu lebih meresap, dan tidak terlalu lembek saat dimakan.
            
Sejarah mencatat, pisang epe mulai dikenal luas sebagai kudapan masyarakat Makassar sejak pertengahan abad ke-20. Awalnya, pedagang kaki lima menjajakannya di sekitar pelabuhan dan pasar tradisional sebagai pengganjal perut yang murah dan mengenyangkan. Bahannya menggunakan pisang kepok yang melimpah tumbuh di Sulawesi Selatan, dipadukan dengan gula merah cair dan sedikit santan, pisang epe pun menjadi makanan favorit semua kalangan. Lama-kelamaan, jajanan ini mulai hadir di kawasan wisata Pantai Losari, hingga akhirnya menjadi ikon kuliner yang wajib dicoba saat berkunjung ke Makassar.
 
Pisang Kepok: Bahan Utama yang Tak Terpisahkan
 
Kunci kelezatan pisang epe terletak pada jenis pisang yang digunakan, yaitu pisang kepok. Berbeda dengan pisang ambon atau pisang raja yang dimakan langsung, pisang kepok memiliki tekstur padat, kandungan pati tinggi, dan rasa manis yang muncul sempurna setelah dimasak. Dagingnya yang tebal menghasilkan aroma yang khas saat dipangang di atas bara api dengan warna kecokelatan yang menggugah selera.
 
Proses pembuatannya pun masih mempertahankan cara tradisional hingga kini. Pisang dikupas, disusun di atas panggangan besi, lalu dipanggang perlahan. Setelah bagian luarnya sedikit menghitam dan daging buah mulai lunak, pisang diangkat dan ditekan (di-epe) perlahan hingga pipih namun tidak hancur. Setelah itu, pisang dipanggang kembali sebentar agar matang merata dan teksturnya menjadi kenyal namun tetap lembut.
 
Dari Sederhana Hingga Beragam Varian Rasa
 
Pada awal kemunculannya, pisang epe hanya disajikan dengan siraman saus gula merah yang dimasak kental bersama sedikit santan dan daun pandan. Rasanya manis alami dengan gurih lembut santan, memberikan kesan hangat dan menenangkan. Namun seiring berjalannya waktu dan selera masyarakat yang semakin beragam, kreasi pisang epe pun ikut berkembang pesat.
 
Kini di kedai-kedai pisang epe di pelataran pantai Losari Makassar, kita bisa menemukan berbagai varian rasa yang tak kalah lezat:
 
- Pisang Epe Keju: Siraman gula merah ditambah parutan keju cheddar yang melimpah, perpaduan manis dan gurih yang sangat pas.
- Pisang Epe Cokelat: Dihujani serutan cokelat batang atau selai cokelat kental, sangat disukai anak-anak dan pencinta manis.
- Pisang Epe Durian: Menggunakan saus durian khas Makassar yang harum dan kental, memberikan aroma tropis yang kuat.
- Varian Modern: Mulai dari pisang epe selai stroberi, kacang, hingga susu kental manis, bahkan ada yang ditaburi biji wijen dan kacang tanah sangrai.
 
Meskipun muncul banyak kreasi baru, varian gula merah asli tetap menjadi juara dan paling dicari. Ia menyimpan kenangan rasa yang otentik, mengingatkan pada cita rasa asli tanah kelahiran.
 
Pisang Epe sebagai Ajimat Persaudaraan dan Wisata
 
Bagi warga Makassar, menikmati pisang epe bukan sekadar makan, melainkan momen berkumpul. Biasanya kudapan ini disantap bersama keluarga, teman, atau kerabat sambil menikmati angin sepoi-sepoi di pinggir pantai Losari saat matahari terbenam. Harganya yang terjangkau membuatnya bisa dinikmati siapa saja, tanpa memandang status sosial.
 
                Penjual pisang epe di Pantai Losari, Makassar
Kini pisang epe tak hanya milik warga Makassar, melainkan telah dikenal ke seluruh Indonesia. Ia menjadi bukti bahwa kuliner sederhana yang lahir dari kearifan lokal mampu bertahan dan berkembang mengikuti zaman, tanpa kehilangan jati dirinya.
 
Setiap gigitan pisang epe membawa cerita: tentang tanah yang subur, tentang kreativitas nenek moyang, dan tentang rasa persaudaraan yang erat di Kota Makassar. Rasanya yang menggoda selera selalu berhasil membuat siapa pun ingin kembali lagi.(ttp)

Komentar