Penulis: Gempita Prahara
Di hamparan tanah Sulawesi Selatan, dan di seantero negeri ini, terbentang kekayaan alam yang sungguh tiada tara. Gunung-gunung menjulang menyimpan kandungan bumi yang berharga, hutan rimba menahan air dan menyegarkan udara, sungai-sungai beralir jernih membasahi hamparan sawah penghidupan, serta laut yang tak pernah lelah menyuguhkan hasil melimpah. Seharusnya, di atas tanah yang begitu dermawan ini, tidak ada satu pun anak bangsa yang harus kelaparan, tidak ada satu pun keluarga yang harus tidur menahan dingin tanpa atap, dan tidak ada satu pun tangan yang harus terulur meminta belas kasihan demi sesuap nasi. Namun ironi yang menyayat hati justru terjadi: rakyat kecil hidup dalam belitan kemiskinan yang begitu erat, seolah mereka adalah pengemis di tanah warisan leluhur sendiri.
![]() |
| Pejabat Korup, Kaum Penjajah yang tak Pernah Pergi |
Di hamparan tanah Sulawesi Selatan, dan di seantero negeri ini, terbentang kekayaan alam yang sungguh tiada tara. Gunung-gunung menjulang menyimpan kandungan bumi yang berharga, hutan rimba menahan air dan menyegarkan udara, sungai-sungai beralir jernih membasahi hamparan sawah penghidupan, serta laut yang tak pernah lelah menyuguhkan hasil melimpah. Seharusnya, di atas tanah yang begitu dermawan ini, tidak ada satu pun anak bangsa yang harus kelaparan, tidak ada satu pun keluarga yang harus tidur menahan dingin tanpa atap, dan tidak ada satu pun tangan yang harus terulur meminta belas kasihan demi sesuap nasi. Namun ironi yang menyayat hati justru terjadi: rakyat kecil hidup dalam belitan kemiskinan yang begitu erat, seolah mereka adalah pengemis di tanah warisan leluhur sendiri.
Ironi yang menyayat hati, rakyat mengemis di tanah leluhurnya sendiri
Bukankah dahulu para pahlawan kita bertaruh nyawa, menumpahkan darah dan air mata, berjuang mati-matian mengusir penjajah dan penjarah dari bumi pertiwi ini? Harapan besar yang mereka tanamkan adalah agar kelak kita, anak cucu mereka, dapat hidup bebas, bermartabat, dan menikmati hasil kekayaan alam ini untuk kesejahteraan bersama. Mereka berkorban bukan agar kita kembali tertindas, bukan agar kita menjadi pengemis di negeri sendiri, melainkan agar kemerdekaan ini menjadi pintu gerbang menuju kehidupan yang makmur dan sejahtera.
Namun, andai saja mereka yang dulu berjuang itu bisa membuka mata dan menyaksikan kondisi hari ini, betapa dalamnya rasa kecewa yang akan mereka rasakan. Dulu, meski penjajah asing menguasai negeri ini selama ratusan tahun, mereka tidak pernah berani meratakan gunung, tidak pernah menggunduli hutan hingga tandus, tidak pernah mengeruk sungai hingga rusak parahnya, dan tidak berani seenaknya menggusur sawah petani untuk kepentingan pribadi. Justru kini, setelah kita menyatakan diri merdeka dan berdaulat, pemandangan menyedihkan itu terjadi di mana-mana.
Gunung-gunung yang dulu menjadi pelindung alam kini perlahan diratakan wajahnya demi ambisi yang tak terpuaskan. Hutan-hutan yang menjadi paru-paru kehidupan kini digunduli habis tanpa rasa bersalah, menyisakan tanah gersang dan longsor yang mengancam pemukiman warga. Sungai yang dulu jernih kini keruh dan tercemar, tak lagi layak diminum maupun digunakan untuk mengairi sawah. Yang paling menyakitkan, rumah-rumah rakyat kecil dibongkar paksa, tanah warisan, kebun, dan hamparan sawah yang menjadi satu-satunya sumber penghidupan mereka kini direbut dan dikuasai oleh segelintir orang yang berkuasa.
Maka tidak berlebihanlah jika kini mulut rakyat kecil berbisik getir: bahwa penjajah sesungguhnya yang paling kejam dan berani merusak negeri ini, ternyata adalah bangsa sendiri, yang berlindung di balik topeng pejabat dan penguasa. Mereka berbicara lantang tentang kemajuan dan pembangunan, namun yang dibangun hanyalah kemewahan bagi diri sendiri dan kerabat dekatnya. Mereka mengatasnamakan kepentingan umum, namun yang diambil adalah hak milik rakyat kecil yang tak berdaya melawan kekuasaan.
Penjajah yang kejam adalah pejabat korup yang berlindung di balik topeng kekuasaan
Rakyat kecil ini tidak menuntut kemewahan yang berlebihan. Mereka hanya meminta hak yang layak: hak untuk hidup di tanah sendiri, hak mengelola alam yang telah dijaga leluhurnya, hak menikmati kesejahteraan yang semestinya menjadi milik bersama. Namun kini, mereka terpaksa menjadi penonton di tanah kelahirannya sendiri, menyaksikan kekayaan yang melimpah ruah itu diangkut dan dikantongi oleh segelintir orang, sementara mereka sendiri harus berjuang mati-matian hanya untuk sekadar bertahan hidup.
Kekayaan alam ini bukanlah warisan yang boleh diambil sewenang-wenang oleh satu dua orang saja. Ini adalah titipan Tuhan, dan warisan abadi bagi seluruh anak bangsa, baik yang hidup hari ini maupun generasi yang akan datang. Jika tanah ini kaya raya, maka seluruh rakyatnya pun seharusnya hidup sejahtera, bukan sebaliknya semakin terpuruk dalam kemiskinan.
Jeritan hati rakyat kecil ini mungkin terdengar lemah dan tertutup suara gemuruh proyek pembangunan, namun kebenaran tak akan pernah bisa dikubur selamanya. Suara ini akan terus bergema, menuntut keadilan yang sejati, menuntut agar kekayaan negeri ini kembali dinikmati oleh mereka yang berhak, bukan dijadikan alat penindasan. Sudah saatnya kita sadar, bahwa kemerdekaan yang diraih dengan darah para pahlawan ini tidak boleh ternoda oleh penjajahan baru yang datang dari bangsa sendiri.(ttp)
Baca ki Juga,

Komentar