Pembentukan Aliansi Tellumpoccoe, Gerbang Masuknya Islam di Tiga Kerajaan Bugis

Penulis: Gempita Prahara 

To The Point, MAKASSAR
- Persekutuan Tellumpoccoe, atau Ikatan Tiga Kerajaan Bugis yang disepakati sekitar tahun 1582 antara Kerajaan Bone, Kerajaan Soppeng, dan Kerajaan Wajo, pada mulanya dibentuk sebagai ikatan pertahanan bersama. Tujuannya menjaga keseimbangan kekuatan serta melindungi diri dari perluasan pengaruh Kerajaan Gowa‑Tallo yang semakin kuat berkuasa di wilayah Sulawesi Selatan. Namun seiring berjalannya waktu, persekutuan ini justru menjadi titik awal dan jalan utama bagi masuk serta berkembangnya agama Islam secara luas dan kokoh di tanah‑tanah Bugis.
 
Hubungan antara kekuasaan Gowa‑Tallo dan aliansi Tellumpoccoe berlangsung melalui dua tahapan penting yang saling berkaitan erat.

Tahap Pertama: Tekanan Militer dan Benih Ketegangan 

Pada masa itu, kerajaan Gowa yang berada di bawah pemerintahan Raja Tunijallo, merasa terancam dengan terbentuknya Aliansi Tellumpoccoe. Hal ini disebabkan karena wilayah Soppeng dan Wajo, sebelumnya berada dalam lingkaran pengaruh Gowa. Kini kedua kerajaan itu berbalik arah dan bergabung bersama Bone membentuk satu kekuatan baru. 

Keadaan ini memicu serangkaian gesekan dan bentrokan bersenjata. Pihak Kerajaan Gowa beberapa kali mencoba menguji ketahanan serta berupaya memecah‑belah ikatan persaudaraan yang baru saja disusun. 

Namun tekanan‑tekanan yang dilancarkan oleh Kerajaan Gowa-Tallo, justru semakin mengeratkan persatuan di antara ketiga kerajaan sekutu tersebut. 

Tahap Kedua: Invasi Bermotif Agama dan Konsep Musu’ Seleng

Karena tekanan militer yang dilancarkan Kerajaan Gowa-Tallo gagal memecah kekuatan Aliansi Tellumpoccoe, maka pola tekanan berubah. Kerajaan Gowa-Tallo yang telah mengakui Islam sebagai agama pada tahun 1605, menjadikan landasan ideologi sebagai pola tekanan. Sejak saat itu, tekanan tidak lagi hanya berdasar persaingan kekuasaan dan kekuatan militer semata, melainkan juga dilandasi semangat penyebaran ajaran agama. 

Mulai tahun 1607 kerajaan Gowa dibantu saudara kembarnya, kerajaan Tallo melancarkan serangkaian gerakan yang disebut sebagai perang penyebaran Islam. Dalam pandangan Gowa‑Tallo, Aliansi Tellumpoccoe dicap sebagai Musu’ Selleng, yang berarti musuh agama Islam. Sebutan ini dijadikan alasan utama untuk memperkuat serangan militer demi memaksa ketiga kerajaan itu menerima Islam sebagai ajaran sekaligus mengakui kedaulatan Kerajaan Gowa‑Tallo.
 
Tekanan berlanjut terus hingga satu demi satu anggota persekutuan akhirnya tunduk:
 
- Tahun 1609: Kerajaan Soppeng masuk ke dalam lingkup pengaruh Islam. 
- Tahun 1610: Kerajaan Wajo ikut bergabung dan menerima Islam
- Tahun 1611: Kerajaan Bone yang paling kuat terakhir menyatukan diri dan sekaligus menerima ajaran Islam. 
 
Salah satu fakta penting yang menjadi ciri khas sejarah ini adalah nuansa dan corak Islam yang mewarnai perubahan kala itu.  
Meski berhasil menaklukkan ketiga kerajaan Bugis tersebut, Kerajaan Gowa‑Tallo tidak menjatuhkan denda perang, tidak menjadikan rakyatnya sebagai budak, maupun mengubahnya menjadi wilayah taklukan. Sebaliknya, Gowa‑Tallo justru berusaha menghidupkan kembali semangat lama persekutuan Tellumpoccoe, namun kini dibalut dalam ikatan persaudaraan yang berlandaskan ajaran Islam yang sama. 

Akibatnya, agama Islam dapat diterima oleh ketiga kerajaan dan ditetapkan sebagai pedoman hidup serta landasan hukum resmi di Bone, Soppeng, maupun Wajo.

Pengaruh Terhadap Kerajaan Bone

Sebagai pilar utama persekutuan, Bone paling lama bertahan menghadapi tekanan. Namun setelah bersatu dalam ikatan damai baru, sistem pemerintahan, ketentaraan, serta tata hukum disempurnakan bersama dalam tuntunan Islam. Tak ada pemberlakuan hukuman yang memberatkan, rakyat dan pemimpin dapat menyerap nilai‑nilai agama secara tenang dan bertahap. Ajaran Islam perlahan menyatu erat dengan nilai‑nilai adat seperti lempu, getteng, dan prinsip musyawarah. 

Pengelolaan pelabuhan, jalur perdagangan, serta teknik pertanian juga berkembang berkat pertukaran pengalaman antara  kerajaan Bone dengan Gowa‑Tallo.

Pengaruh Terhadap Kerajaan Soppeng

Sebagai wilayah penghubung antara pesisir dan pedalaman, Soppeng merasakan dampak penyatuan lebih awal. Jalur lalu lintas perdagangan berjalan aman dan lancar. Pemimpin daerah tetap menjalankan kekuasaannya masing‑masing, dalam satu ikatan persaudaraan yang berlandaskan agama Islam. Struktur pemerintahan dan pembagian wilayah diperjelas agar lebih tertib. Aksara Lontara diseragamkan pemakaiannya, untuk menjadi sarana utama dalam menuliskan dan mengajarkan ajaran agama, ketentuan hukum, serta warisan sejarah leluhur.

Pengaruh Terhadap Kerajaan Wajo 

Wajo yang sejak dahulu dikenal sebagai bangsa pelaut dan pedagang ulung, makin mengembangkan kelebihannya itu setelah menerima ajaran baru. Sistem hukum pelayaran, pengaturan pelabuhan, serta jalur niaga disempurnakan dengan menyerap pengalaman dari Gowa‑Tallo. Di bidang pertanian dan pengairan juga ditingkatkan demi menjamin ketersediaan pangan yang cukup dan merata. 
Nilai‑nilai Islam tumbuh selaras dengan prinsip‑prinsip masyarakat Bugis, Sipakatau, Sipakalebbi, Malilu Sipakainge, dan Mali Siparappe. Kehidupan beragama dan kehidupan adat tidak saling bertentangan, melainkan melengkapi satu sama lain.

Makna Sejarah dan Warisan Abadi

Dari rangkaian peristiwa tersebut terlihat jelas bahwa pembentukan Aliansi Tellumpoccoe menjadi jalan atau gerbang utama masuknya agama Islam di tanah‑tanah Bugis. Awalnya Aliansi itu terbentuk untuk pertahanan, namun persekutuan itu berubah menjadi sarana penyatuan dalam satu keyakinan yang sama. Kebijakan Kerajaan Gowa‑Tallo yang tidak menindas atau memperbudak justru mempercepat penerimaan agama Islam secara damai dan tulus.
 
Hingga kini, jejak sejarah itu masih hidup nyata dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan. Agama dan adat istiadat tumbuh menyatu, pemerintahan berlandaskan keadilan, serta semangat persaudaraan yang pernah dijalin dalam persekutuan kuno tetap menjadi ciri khas hubungan antar suku bangsa di wilayah ini.

  🔗 Baca ki Juga :

Prinsip Hidup Masyarakat Bugis, Lima Ajaran Utama

Tudang Sipulung Tradisi Musyawarah-Mufakat Masyarakat Bugis sejak Ratusan Tahun Silam


Komentar