Asal Mula Nama Palopo: Terkait Erat dengan Sejarah Masjid Jami' Tua


To The Point PALOPO – Nama kota Palopo tidak bermula dari sebuah peristiwa penting yang menandai titik balik sejarah Kesultanan Luwu, yaitu pendirian Masjid Jami' Tua Palopo. 

Sebelum dinamai Palopo, kawasan pemukiman yang berada di tepian pelabuhan kuno ini dahulunya bernama Ware.

Secara historis, nama "Palopo" baru lahir dan melekat kuat bersamaan dengan proses pembangunan masjid bersejarah, yakni Mesjid Jami' Tua, yang bertepatan dengan perpindahan pusat kedatuan Luwu dari wilayah pedalaman Pattimang atau Malangke menuju pesisir pantai, di masa kekuasaan Satu Luwu XVI, Pati Pasaung Toampanangi Sultan Abdullah Matinroe, pada tahun 1604 Masehi. 

Fahri berdiri di sisi Tiang Utama
Mesjid Jami Tua Palopo
Lahirnya nama kota berkaitan erat dengan masjid jami tua itu. Bahkan menjadi asal-usul sebutan yang digunakan hingga kini. Ada dua versi utama yang dipercaya masyarakat, keduanya berkaitan langsung dengan proses pendirian bangunan suci tersebut.

Versi pertama berasal dari istilah teknik pembangunannya. Masjid Jami' Tua dibangun tanpa menggunakan paku besi sama sekali. Seluruh struktur kayu disatukan dengan sistem pasak dan ikatan yang sangat presisi. 

Pada saat upacara pemancangan tiang utama, para tetua dan pekerja secara bersamaan menyerukan kata “palopo’i”, yang dalam bahasa Bugis berarti “memasang pasak” atau “menancapkan tiang dengan kuat”. Seiring berjalannya waktu, seruan ini kemudian menjadi sebutan bagi lokasi tersebut, yang akhirnya disingkat menjadi Palopo.

Versi kedua berkaitan dengan tradisi dan kebersamaan. Saat prosesi peletakan batu pertama mesjid jami tua, masyarakat mengadakan syukuran besar-besaran. Sebagai wujud rasa terima kasih dan persatuan, disajikan makanan tradisional bernama palopo, makanan yang terbuat dari ketan dicampur gula merah dan kelapa parut, yang dibagikan secara merata kepada seluruh warga, pekerja, dan ulama yang hadir dalam proses pembangunan mesjid. 

Makanan ini menjadi simbol kebersamaan dalam membangun tempat ibadah, sehingga nama hidangan itu pun melekat pada nama daerah tersebut. Sejak peristiwa bersejarah itu, nama lama Ware perlahan ditinggalkan dan diganti menjadi Palopo. 

Masjid Jami' Tua bukan hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan dan pemerintahan, tetapi juga menjadi saksi lahirnya identitas kota ini. Nama Palopo pun berkembang melambangkan kekokohan, persatuan, dan kearifan lokal yang menjadi ciri khas masyarakatnya hingga masa kini.(ttp) 


Komentar